Slider

Di Ende Selama 2019 Ada 2 TKI Meninggal di Malaysia

Buy Generic Diazepam Uk BERITASPB – Selama tahun kurun waktu tahun 2019 dari Januari hingga November tercatat ada 20 TKI asal Kabupaten Ende meninggal di Negara Malaysia.

Koordinator Komisi Keadilan dan Perdamaian Pastoral Migran dan Perantau (KKP-MP) Kevikepan Ende, RD Reginald Pi Perno mengatakan hal itu kepada Pos Kupang.Com, Rabu (27/11/2019) di Ende.

RD Perno mengatakan bahwa kasus kematian TKI memang terkesan mengenaskan karena mereka meninggal yang disebabkan oleh berbagai hal seperti karena kecelakaan kerja ataupun menderita sakit.

RD Perno mengatakan bahwa kematian data TKI asal Kabupaten Ende tidak saja berdasarkan data yang mereka kumpulkan dari berbagai sumber namun dirinya sendiri yang melihat serta mengurusnya baik ketika masih di Malaysia maupun ketika sudah di Ende.

RD Perno mengatakan bahwa TKI yang meninggal pada umumnya adalah TKI yang tidak memiliki dokumen sebagaimana layaknya atau yang lasim dikenal dengan TKI ilegal.*

Oleh karena itu pihaknya mengharapkan kepada warga apabila hendak bekerja diluar negeri hendaknya melengkapi diri dengan dokumen yang sah agar keberadaannya bisa diterima dan diberlakukan secara layak pada saat bekerja.

“Kalau tidak memiliki dokumen para pekerja tidak akan nyaman bekerja karena akan dikejar-kejar oleh aparat keamanan negara Malaysia,”kata RD Perno.

RD Perno mengatakan bahwa dari berbagai kasus kematian yang ada pihaknya melihat sesuatu yang agak aneh karena ketika TKI dibawa ke rumah sakit apalagi TKI ilegal maka dipastikan bahwa yang bersangkutan akan meninggal di rumah sakit.*

“Kita tidak menuduh ada hal yang salah dalam proses penanganan kepada TKI pada saat mereka masuk ke rumah sakit namun pada kenyataannya ketika ada TKI yang sakit dan dibawa ke rumah sakit pada umumnya bukannya sembuh namun justru berujung pada kematian,”kata RD Perno.

RD Perno mengatakan bahwa soal perlakuan kepada TKI yang tidak layak bukan sekedar isapan jempol namun dirinya sendiri yang melihat pada saat dia ke Malaysia beberapa waktu lalu.

“Saya bahkan nyaris diusir oleh Polisi Draja Malaysia karena hendak membantu seorang ibu yang pendarahan pada saat di rumah sakit. Pihak rumah sakit bersikeras baru membantu apabila sudah ada pembayaran dan akhirnya ketika sudah ada uang pihak rumah sakit baru bisa memberikan pelayanan,”kata RD Perno.(Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Romualdus Pius)